Krisis Air Baku Banjarmasin

Ilustrasi

BANJARMASIN – Banjarmasin terancam darurat air minum, dengan semakin tingginya intrusi atau kadar garam di hulu Sungai Martapura yang menjadi sumber air baku bagi PDAM Bandarmasih. Di mana intake Sungai Bilu beberapa waktu yang lalu disetop. Kini, jika kemarau terus berlanjut, intake Sungai Tabuk pun yang selama ini menajadi harapan, rencananya juga akan dihentikan.
Dibeberkan Dirut PDAM Bandarmasih Muslih, akibat kemarau yang berkepanjangan saat ini, peningkatan kadar garam di Sungai Tabuk sudah mencapai 60 miligram per liter. Nah, apabila kadar garam mencapai 1.000 per liter maka akan sulit dijadikan bahan baku pengolahan air minum.
Idealnya,  kadar garam hanya 250 miligram per liter. Selama dua hari terakhir,  sebutnya kadar garam yang masuk ke intake mencapai 10 miligram perliter. Dimana dalam dua hari mengalami peningkatan 6 kali lipatnya,yakni 63 miligram per liter. “Bayangkan jika sepuluh hari mendatang tanpa turunnya hujan, diperkiraan akan mencapai 1.000 miligram per liter,” ujarnya Sabtu (27/9) tadi.
Bila hal tersebut sampai terjadi,  maka dapat dipastikan distribusi air minum ke masyarakat akan terhenti. Dan kota Banjarmasin yang bergelar kota seribu sungai pun akan darurat air minum.
Menurut Muslih, sulit mencari alternatif sumber air bahan baku lain selain Sungai Martapura, sementara kadar garam di hilir Sungai Martapura seperti di Sungai Bilu sudah tak bisa diharapkan, karena kadar garam mencapai 5.000 miligram per liter.
Diungkapkannya, selama berpuluh-puluh tahun, intake Sungai Tabuk tak pernah terkena imbas kemarau. Namun, akibat kemarau tahun ini cukup parah. Intake Sungai Tabuk pun terkena dampak. Bukan hanya kadar garam yang jauh melampaui ambang batas, tapi juga debit air sungai turun drastis. “Dua malam terakhir tinggi air hanya 85 centimeter, akibatnya pipa isap pun tak berfungsi,” ungkapnya.
Jika hujan tak kunjung tiba, ia mengharapkan pemanfaatan air irigasi di Riam Kanan untuk disalurkan ke waduk pematang panjang. Oleh sebab itu, ia berharap kepada Pj Gubernur Kalsel, Tarmiji A Karim untuk menginstruksikan jajarannya untuk mengatisipasi krisis air ini dengan cara mengorbankan aktivitas budidaya ikan tambak yang memanfaatkan air irigasi di wilayah tersebut.
“Senin (hari ini, red) saya akan mengirimkan surat ke Pj Walikota dan Pj Gubernur terkait solusi ini. Sebab, jika bisa memanfaatkan hal ini potensi bahan baku air minum bisa di oleh sekitar 4.000 liter per jam,” ujarnya.
Sementara, keresahan warga akan krisis air sudah mulai dirasa oleh warga Sungai Andai Banjarmasin, Rafli. Menurutnya, ia tak bisa membayangkan jika intake Sungai Tabuk setop beroperasi. Sebelum setop saja, ia saat ini harus bergadang larut malam menunggu aliran air.
Menurutnya, aliran air di wilayahnya sejak satu bulan terakhir sudah sering ngadat. Bahkan, diharapkan malam hari mengalir, ternyata tetap mati. Praktis, untuk keperluan sehari-hari ia rela membeli air mineral untuk kebutuhan hidup. “Paling lama ngalirnya dua jam, setelah itu mati total,” keluhnya. (Radar Banjarmasin)

Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment